Rahmat Penderita Hydrocephalus
19 Tahun Terbaring Di Atas Ranjang
Tanah
Datar, Memiliki seorang buah hati adalah cita-cita
pasangan suami istri, memperhatikan perkembangan buah hati yang sehat adalah
kebahgiaan yang dimiliki oleh orang tua, namun tidak semua orang tua bisa
bahagia melihat perkembangan si buah hati. Pada sebagian orang tua Tuhan
memberikan ujian dengan sebuah perkembangan buah hati yang tidak tumbuh normal
dan sehat seperti anak lain pada umumnya.
Di sebuah rumah sederhana milik pasangan
suami istri Nurhayati (50) dan Sawir (55) yang berada di jorong Koto Baru
kenagarian Tabek Patah kecamatan Salimpaung Kabupaten Tanah Datar terlahir
seorang anak malang yang menderita hydrocephalus, namanya Rahmat (19). hydrocephalus
merupakan penyakit yang terjadi akibat gangguan aliran cairan yang terjadi
dalam otak (cairan cerebro spinal). Rahmat merupakan anak ke empat dari lima
bersaudara pasangan Nurhayati dan Sawir. Rahmat lahir pada tanggal 11 april 1995 dan sekarang telah berumur 19
tahun.
Sungguh malang nasib Rahmat, disaat
teman-teman seumurannya menikmati masa-masa remaja yang indah namun masa itu tidak
dapat dinikmati oleh Rahmat, dia hanya bisa terbaring lemah di ranjang selama
19 tahun. Dia tidak bisa melakukan aktivitas sendiri, semua aktivitas untuk
keperluan pribadinya harus mendapat
bantuan dari orang lain. Secara fisik rahmat mengalami pembesaran kepalanya
karena cairan yang terus menumpuk di kepalanya. Tubuh, tangan dan kakinya
terlihat kurus dan kondisinya tidak lagi lurus seperti orang normal, tidak ada
lagi tampak daging mengisi tubuhnya, namun seperti tulang yang hanya dibalut
oleh kulit.
Setiap pagi Nurhayati dengan sabar dan
tabah memandikan Rahmat, setelah itu dia mengenakan pakaian pada anaknya dengan
penuh harapan dan do’a untuk kesembuhan anaknya. Tak lama kemudian ia membuat
bubur untuk Rahmat yang nantinya akan di suapi kepada anak kesayangannya
tersebut. Setiap saat Nurhayati selalu memeriksa popok yang dipakai oleh
anaknya apakah popok yang di pakai tersebut telah kotor atau tidak, apabila
popok tersebut harus di tukar dengan sigapnya Nurhayati membersihkan kotoran
anaknya tersebut dan memakaikan popok yang baru. Sepajang siang dan malam
Nurhayati selalu memperhatikan kondisi anaknya yang tidak stabil, menurut
pengakuan Nurhayati Rahmat sering step, dalam satu hari bisa 3-5 kali.
Pada awalnya Rahmat terlahir secara
normal dan tumbuh sehat namun pada umur 3 bulan Rahmat mengalami step, lalu
Nurhayati mencoba mengobati Rahmat, awalnya dengan mencoba pengobatan
alternatife di kampugnya tersebut, tak kunjung sehat keluarga dan kerabat menyarankan untuk membawa Rahmat ke rumah
sakit, setelah dibawa ke rumah sakit lalu pihak rumah sakit melakukan perawatan
terhadap Rahmat, namun setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit kondisi
Rahmat tak juga kunjung membaik malah
semakin memburuk, melihat kondisi tersebut pihak keluarga memutuskan
untuk membawa pulang Rahmat karena tidak tega melihat kondisi Rahmat semakin
memburuk, setelah keluar dari rumah sakit keluarga kembali mencoba dengan
pengobatan alternatife, setelah itu kondisi Rahmat mulai membaik, namun pada
umur 1,5 tahun Rahmat kembali mengalami step dan kondisi Rahmat kembali
memburuk, dan kepalanya terus memebersar dan terdapat cairan dikepalanya,
semakin hari semakin membesar namun Nurhayati hanya mencoba pengobatan
alternatife, pada umur 2 tahun baru Nurhayati membawa rahmat ke rumah sakit dan
melakukan operasi. Setelah melakukan operasi Rahmat hanya melakukan rawat
jalan.
Perjuangan menjalani kehidupaan dengan
penuh cobaan yang dilakukan Nurhayati patut di teladani walaupun cobaan itu
terasa berat namun Nurhayati tidak pernah mengeluh dan putus asa, Nurhayati
terus memeperjuangkan kehidupan dan kesehatan Rahmat, telah berbagai upaya
telah dilakukan Nurhayati baik pengobatan secara alternative maupun medis.
Sebagai
keluarga petani penghasilan Nurhayati tidak lah seberapa, dengan kebutuhan dan
perawatan Rahmat yang lumayan besar perjuangan Nurhayati untuk kesembuhan
Rahmat terasa lebih berat, setiap harinya dia harus menyisihkan penghasilannya
untuk membeli kebutuhan Rahmat seperti popok yang digunakan Rahmat, susu, dan
bubur untuk makan sehari-hari Rahmat. Untuk perawatan Rahmat sekali dalam 2
bulan Nurhayati membawa Rahmat ke klinik dokter Spesialis di Padang untuk
mengontrol kondisi Rahmat, karena terdapat selang di kepala Rahmat yang
dihubungkan kelambungnya untuk mengurangi cairan di kepalanya. Untuk sekali
kontrol Nurhayati mengeluarkan dana 600.000-1.000.000 rupiah untuk sekali
kontrol ke Padang, apabila ketiadaan biaya Nurhayati terpaksa mengurungkan
niatnya untuk melakukan control walaupun telah waktunya.
Rahmat merupakan salah satu anak yang
penderita Hydrochepalus yang dapat bertahan hidup, walaupun keadaan Rahmat
tidak juga membaik namun keluarga Rahmat masih tetap berjuang untuk kehidupan
Rahmat, mereka tidak pernah putus asa waalaupun cobaan itu tak pernah henti
datang kepada mereka, sikap terus berjuang dan tidak pernah putus asa merupakan
faktor utama yang bisa membuat rahmat tetap bertahan hidup, di samping itu pertolongan
dan bantuan kita bersama merupakan benuk kepedulian kita, karna kesembuahan
Rahmat merupakan tanggung jawab kita bersama.
Liputan
: ROMA ALIYAFI
Lokasi
: jorong Koto Baru, nagari Tabek Patah
kecamatan Salimpaung, kabupaten tanah Datar
mahasiswa LAM&PK FH UNAND

No comments:
Post a Comment